Minggu, 01 Juni 2014

Surat Cinta Untuk Calon Suami Ku

Kpd. 
Yth, Calon Suamiku

Assalamu'allaikum Wr..wb..

Dear Calon Suamiku...

Apa kabarnya imanmu hari ini?

Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur? karena dapat menatap kembali fananya hidup ini.

Sudahkah air wudhu menyegarkanmu kembali ingatanmu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?


Wahai Calon Suamiku...

Tahukah engkau betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya?

Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak.

Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.



Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku. Bagian terapuh diriku.


namun kini aku tahu jawabannya.


Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya.

Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saat kelak kita bertemu, kau bangga telah memiliki aku dihatimu.


Calon Suamiku...

Entah dimana dirimu sekarang.

Tapi aku yakin Allah pun mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku.

Aku yakin kini Dia tengah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak.



Apa yang ku harapkan darimu adalah kesalihan. 

Semoga sama halnya dengan dirimu.

Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang akan kau dapati.



Aku masih haus akan ilmu.

Namun berbekal ilmu yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu, Suamiku.


Wahai Calon Suamiku...
Saat aku masih menjadi asuhan Ayah dan Bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah, agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat.


Namun nanti,

setelah menjadi isterimu, aku berharap menjadi pendamping yang solehah agar kelak di syurga cukup aku yang menjadi bidadarimu,
mendampingi dirimu yang soleh.


Aku ini pencemburu berat !
tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela.

Aku harap begitu pula dirimu.


Aku yakin kaulah yang kubutuhkan, meski nanti kau bukanlah orang yang kuharapkan.


Calon Suamiku yang dirahmati Allah...



Apabila hanya sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita, 
takkan ku namai dengan gubuk derita. 
Karena itulah markas dakwah kita, dan akan menjadi indah ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih..
Ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah islam dari pernikahan kita,
Bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, 
terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah Ta'ala.
Bunga akan indah pada waktunya. 
Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. 
Maka kini tengah ku persiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.
                                                                                 
Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. 
Meski bukan umat yang terbaik,


tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak.


Calon Suamiku...
Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata.


Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Itulah yang kini kuhadapi.
Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku,

sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu.



Bersabarlah calon suamiku...
Doaku selalu...
Agar Allah memudahkan jalanmu tuk menjemputku sebagai bidadarimu...




Semoga Allah selalu menjagamu, agar tak tersentuh dengan yang bukan mahrammu,
meski hanya seujung kuku..
Agar kau bisa mempersembahkan dirimu seutuhnya untukku


Seperti halnya Aku,
yang ingin mempersembahkan diriku seutuhnya,
Hanya untukmu...


Sudah dulu ya calon suamiku,



Salam Cintaku Untukmu...



Wassalam.......



Calon Isterimu

 

Ingat Mati …

Kematian merupakan persinggahan pertama manusia di alam akhirat. Al Qurthubiy berkata dalam At Tadzkirah, “Kematian ialah terputusnya hubungan antara ruh dengan badan, berpisahnya kaitan antara keduanya, bergantinya kondisi, dan berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.” Yang dimaksud dengan kematian dalam pembahasan berikut ini adalah al maut al kubra, sedangkan al maut ash shughra sebagaimana dimaksud oleh para ulama, ialah tidur. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az Zumar : 42)[1]

Sebaik-baik pengingat adalah mati sebab satu peristiwa inilah yang pasti menjadi akhir hidup di dunia ini. Betapapun hebatnya kita atau sengsaranya kita ujung dari perjalanan adalah kematian baik sadar ataupun lalai ajal akan menghampirinya. Lantas mengapa peristiwa kematian menjadi ciri pengingat dan nasehat terbaik manusia. Renungkanlah secara mendalam dan bicaralah dari hatimu tentang mati ini.
Jika engkau bisa menemukan hidupmu setelah renungan kematian maka beruntunglah engkau sebab arah dan tujuan hidupmu pasti tergambar jelas siapa kita dan hendak kemana tujuan kita. Seberat apapun beban hidup niscaya akan terasa ringan sebab masih ada kesempatan untuk menyelesaikan dengan cara terbaik karena dilandasi oleh pemahaman bahwa ujian hidup adalah ladang amal sebagai pembuktian bahwa semua ini akan menjadi bukti pengabdian kepada Sang Pemilik kehidupan dunia dan akhirat. Jadi tiada sia-sia jika engkau memahami bahwa jalan surgamu adalah dengan menyelesaikan ujian hidup dunia dengan cara terbaik sebagai hamba Allah.
Bagi mereka yang lalai dari kematian pastilah hidupnya hanya dipenuhi kesenangan sementara bahkan tiada menyangka bahwa semua pasti berakhir. Bahkan hanya melahirkan perasaan takut kehilangan dan terkungkung dengan beban yang rumit ibarat benang kusut tanpa mampu mengurainya lagi. Mampukah kita mempertahankan kesuksesan di dunia ini dan terhindar dari ajal. Tentunya jujur pasti tak kan ada jaminan terhadap kebahagian yang sementara ini. Ya karena hidup di dunia ini akan fana dan berujung pada kematian.

Berkata Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhoinya:”Aku tidak pernah menyesali sesuatu sebagaimana aku menyesali terbenamnya matahari sebagai pertanda berkurangnya ajalku,sementara amalku tidak bertambah.

Orang yang Cerdas

Orang yang cerdas adalah orang yang tahu persis tujuan hidupnya. Kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya demi tujuan tersebut. Maka, jika akhir kesempatan bagi manusia untuk beramal adalah kematian, mengapa orang-orang yang cerdas tidak mempersiapkannya?

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)[2]

Pemutus Segala Kelezatan

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albaniy dalam Shahih An Nasa’iy 2/393 berkata : “hadits hasan shahih”)

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafizhahullah menjelaskan perihal hadits di atas, “Dianjurkan bagi setiap muslim, baik yang sehat maupun yang sedang sakit, untuk mengingat kematian dengan hati dan lisannya. Kemudian memperbanyak hal tersebut, karena dzikrul maut (mengingat mati) dapat menghalangi dari berbuat maksiat, dan mendorong untuk berbuat ketaatan. Hal ini dikarenakan kematian merupakan pemutus kelezatan. Mengingat kematian juga akan melapangkan hati di kala sempit, dan mempersempit hati di kala lapang. Oleh karena itu, dianjurkan untuk senantiasa dan terus menerus mengingat kematian.”[3]

Dan Merekapun Ingin Kembali

Sebaliknya orang-orang yang semasa hidupnya sangat sedikit mengingat mati, dari kalangan orang-orang kafir dan mereka yang tidak menaati seruan para Rasul, akan meminta tangguh dan udzur ketika bertemu dengan Rabb mereka kelak di akhirat. Inilah penyesalan yang paling mendalam bagi manusia yang tidak mengingat kematian.

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzalim: “Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (QS. Ibrahim : 44)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang shaleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun : 10-11)

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “ Wahai Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (QS. Al Mu’minun : 99-100)[4]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy berkata mengenai ayat dalam Surat Al Mu’minun, “Allah Ta’ala mengabarkan keadaan orang-orang yang berhadapan dengan kematian, dari kalangan mufrithin (orang-orang yang bersikap meremehkan perintah Allah -pent) dan orang-orang yang zhalim. Mereka menyesal dengan kondisinya ketika melihat harta mereka, buruknya amalan mereka, hingga mereka meminta untuk kembali ke dunia. Bukan untuk bersenang-senang dengan kelezatannya, atau memenuhi syahwat mereka. Akan tetapi mereka berkata, ‘Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” Beliau kembali menjelaskan, “Apa yang mereka perbuat tidaklah bermanfaat sama sekali, melainkan hanya ada kerugian dan penyesalan. Pun perkataan mereka bukanlah perkataan yang jujur, jika seandainya mereka dikembalikan lagi ke dunia, niscaya mereka akan kembali melanggar perintah Allah.”[5]

Pendekkan Angan-Anganmu!

Sikap panjang angan-angan akan membuat seseorang malas beramal, mengira hidup dan umur mereka panjang sehingga menunda-nunda dalam beramal shalih.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membuat segi empat, kemudian membuat garis panjang hingga keluar dari persegi tersebut, dan membuat garis-garis kecil dari samping menuju ke tengah. Kemudian beliau berkata, ‘Inilah manusia, dan garis yang mengelilingi ini adalah ajalnya, dan garis yang keluar ini adalah angan-angannya. Garis-garis kecil ini adalah musibah dalam hidupnya, jika ia lolos dari ini, ia akan ditimpa dengan ini, jika ia lolos dari ini, ia akan ditimpa dengan ini.” (HR. Bukhari, lihat Fathul Bari I/236-235)

Dari Anas beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap anak Adam akan menjadi tua dan hanya tersisa darinya dua hal: ambisi dan angan-angannya”[6]

Oleh karena itu, di antara bentuk dzikrul maut adalah memperpendek angan-angan, dan tidak menunda-nunda dalam beramal shalih.

Dari Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah memegang pundak kedua pundakku seraya bersabda : “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “. Ibnu Umar berkata : “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. (HR. Al-Bukhari, lihat Al Fath I/233)

Faktor-Faktor yang Dapat Mengingatkan Kematian

[1] Ziarah kubur, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berziarah kuburlah kalian sesungguhnya itu akan mengingatkan kalian pada akhirat” (HR. Ahmad dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani)[7]

[2] mengunjungi mayit ketika dimandikan dan melihat proses pemandiannya

[3] menyaksikan proses sakaratul maut dan membantu mentalqin

[4] mengantar jenazah, menyolatkan, dan ikut menguburkannya

[5] membaca Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan kepada kematian dan sakaratul maut. Seperti firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya” (QS. Qaaf : 19)

[6] merenungkan uban dan penyakit yang diderita, karena keduanya merupakan utusan malaikat maut kepada seorang hamba

[7] merenungkan ayat-ayat kauniyah yang telah disebutkan Allah Ta’ala sebagai pengingat bagi hamba-hambaNya kepada kematian. Seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, badai, dan sebagainya

[8] menelaah kisah-kisah orang maupun kaum terdahulu ketika menghadapi kematian, dan kaum yang didatangkan bala’ atas mereka

Faidah Mengingat Kematian
Di antara faidah mengingat kematian adalah : [1] memotivasi untuk mempersiapkan diri sebelum terjadinya kematian; [2] memendekkan angan-angan, karena panjang angan-angan merupakan sebab utama kelalaian; [3] menjadikan sikap zuhud terhadap dunia, dan ridha dengan bagian dunia yang telah diraih walaupun sedikit; [4] sebagai motivasi berbuat ketaatan; [5] sebagai penghibur seorang hamba tatkala memperoleh musibah dunia; [6] mencegah dari berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam menikmati kelezatan dunia; [7] memotivasi untuk segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat; [8] melembutkan hati dan mengalirkan air mata, mendorong semangat untuk beragama, dan mengekang hawa nafsu; [9] menjadikan diri tawadhu’ dan menjauhkan dari sikap sombong dan zhalim dan; [10] memotivasi untuk saling memaafkan dan menerima udzur saudaranya.[8]

Ada baiknya terus mengingat mati agar hati kita lembut menerima kebenaran sekaligus mampu mempersiapkan diri untuk hidup yang sebenarnya yaitu hidup setelah mati.

Kurangi angan-angan, perbanyak mengingat mati...

__________________________________________________________________________________
Sebagian bersumber dari  : Artikel www.muslim.or.id

[1] Al Qiyamah As Sughra, Syaikh Dr. Sulaiman Al Asyqar, hal. 15-16 cet. Dar An Nafais [2] Disebutkan dalam Kitab At Tazkirah bi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah, Imam Al Qurthubiy dalam bab Dzikrul Maut wa Fadhluhu wal Isti’dadu lahu I/120, cet. Maktabah Dar Al Minhaj
[3] Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly, I/634 cet. Dar Ibnul Jauziy
[4] Imam Nawawi berdalil dengan ayat-ayat tersebut dalam Riyadhus Shalihin bab Dzikrul Maut wa Qashrul Umal (Mengingat Kematian dan Memendekkan Angan-Angan)
[5] Taisir Karimirrahman, Syaikh Abdurrahman bin Nshir As Sa’diy, hal. 531, cet. Dar Ibnu Hazm
[6] HR. Baihaqi dalam Az Zuhd Al Kabir no. 454, Al Hafizh Al Iraqiy berkata hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam “Qashrul Umal” dengan sanad yang shahih
[7] Silahkan merujuk pembahasan lebih lengkap mengenai ziarah kubur dalam artikel bulletin At Tauhid terdahulu, “Saat Kubur Jadi Tempat Ibadah” http://buletin.muslim.or.id/aqidah/saat-kubur-jadi-tempat-ibadah
[8] Brosur “Kafa bil Mauti Wa’izh”, Darul Wathan

Senin, 26 Mei 2014

◕‿◕Pesan Terpendam Para Nabi Untuk Kita Dari Perjalanan Isra Miraj ◕‿◕







Bismillahirrahmanirrahiim...

 
۞ MI’RAJ LANGIT KE-1
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI ADAM a.s.
"ADAM" dari segi bahasa artinya “Tidak Ada” atau “Ketiadaan”.
Kita harus sadar bahwa segala urusan dunia atau urusan jasmani itu tidak kekal (yang kekal adalah urusan rohani, sehingga di balik jasmani itu ada rohani)

۞ MI’RAJ LANGIT KE-2
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI ISA a.s. DAN NABI YAHYA a.s.
"ISA" dari segi bahasa artinya “Hidup” dan YAHYA: “Kehidupan”. Artinya di dalam hidup ini kita harus selalu sadar ada kehidupan setelah kehidupan ini (akhirat). Harus menemukan makna hidup:
“Darimana kita...?”
“Apa tugas kita...?”
“Setelah ini mau ke mana...?”

۞ MI’RAJ LANGIT KE-3
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI YUSUF a.s.
"YUSUF" artinya “Indah”.
Artinya kita harus mengisi kehidupan ini agar menjadi indah.

۞ MI’RAJ LANGIT KE-4
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI IDRIS a.s.
"IDRIS" artinya “Cerdas”.
Artinya dalam hidup ini kita harus mempunyai tiga macam kecerdasan: Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ)

۞ MI’RAJ LANGIT KE-5
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI HARUN a.s.
"HARUN" artinya “yang dicintai Allah (al-Mahbub)”.
Artinya dalam kehidupan ini kita harus berusaha melakukan segala sesuatu yang dicintai Allah S.W.T., kesadaran akan mendapat cinta Allah S.W.T., cinta kepada Allah S.W.T. dan cinta kepada apa saja yang bisa mengantarkan kita kepada Allah S.W.T.

۞ MI’RAJ LANGIT KE-6
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI MUSA a.s.
"MUSA" adalah Mutakallimin yaitu “nabi yang bercakap-cakap dengan Allah S.W.T.“
Artinya kita harus mampu membaca segala sesuatu fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan kita sebagai bahasa atau ayat Allah S.W.T.

۞ MI’RAJ LANGIT KE-7
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI IBRAHIM a.s.
"IBRAHIM" artinya “Qurban”.
Qurban artinya dekat, dalam kehidupan ini harus senantiasa merasakan kedekatan dengan Allah S.W.T. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. tentang sifat IHSAN: “Kamu menyembah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu” [H.R. Bukhari]

۞ MI’RAJ KE BAITUL MA’MUR
Setiap harinya 70.000 malaikat sholat di Baitul Ma’mur.
"BAIT" artinya “Rumah”, sedangkan "MA’MUR" artinya “Ramai”.
Artinya hidup kita akan lebih bermakna bila dalam setiap gerak langkahnya senantiasa bernilai ibadah kepada Allah S.W.T. karena ibadah adalah nilai tertinggi dari hakikat kehidupan manusia.

۞ MI’RAJ KE SIDRATUL MUNTAHA
"SIDRAH" artinya “Pohon Bidara” dan "MUNTAHA" artinya “Tempat Berkesudahan”.
Artinya kehidupan dunia hanyalah sementara bukan merupakan titik akhir dan puncak tujuan hidup kita, melainkan kehidupan akhirat itulah tempat yang akan kita tuju.Dalam kehidupan di dunia ini kita harus berjuang untuk mencapai kehidupan abadi di akhirat yang lebih baik.

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Dari perjalanan Isra' Mi'raj inilah perintah Solat 5 waktu wajib atas kita hamba Allah dan umat Nabi Muhammad Saw.
Dari Anas Bin Malik r.a Rasulullah SAW bersabda :
" Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah sholat nya. Bila sholat nya baik maka baik pada seluruh amal nya, sebaliknya jika sholat nya rusak maka rusak pula seluruh amalnya" ( HR. Ath- Thabarani )


•●ღ¸.••●ღ¸.••●ღ¸.•●ღ¸.•

Semoga bisa menjadi renungan bersama...

Jumat, 16 Mei 2014

JANGAN CUMA BICARA

oleh: KH.Bachtiar Ahmad
====================
Setiap ucapan dan perbuatan kita pasti akan diminta pertanggunganjawabannya oleh Allah SWT. Terlebih-lebih lagi setiap perkataan kita yang mengandung kebajikan dalam bentuk amar ma’ruf nahi mungkar; Dan oleh hal yang demikian itulah Allah SWT mengingatkan kita dengan firman-Nya:

 “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri..”  (Q.S. Al-Baqarah: 44)
Adapun tentang orang-orang yang hanya pandai berkata-kata, menyuruh orang lain melakukan kebajikan, sementara tidak melaksanakan sendiri apa-apa yang diucapkannya itu adalah laksana sebatang lilin. Ia hanya pandai memberikan cahaya dan penerangan kepada apa yang ada di sekitarnya, sementara dirinya sendiri dibiartkannya terbakar dan meleleh tanpa arti.  Hal ini secara tegas telah diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:
 
“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebajikan kepada orang lain dan melupakan dirinya sendiri, adalah merupakan lentera (lilin) yang menerangi orang sementara dia sendiri dalam keadaan terbakar.” (H.R. Imam Ahmad r.a)

Sementara itu di lain  sisi, maka menurut ketentuan hukum agama, orang yang semacam inilah yang disebut sebagai pendusta besar atau orang yang munafik yang sangat dibenci Allah SWT sebagaimana  yang secara tersurat dan tersirat dalam firman-NYA:
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? /  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
 (Q.S. As-Shaff: 2-3)

Selain itu dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
“Pada hari Kiamat nanti seseorang akan dibawa dan dimasukkan ke dalam neraka, lalu isi perutnya terburai keluar, dia melilitkannya laksana himar (keledai) yang memutar gilingan. Para penghuni neraka berkumpul di dekatnya seraya bertanya: “Hai fulan, kenapa kamu ini? Bukankah dulu kamu memerin-tahkan untuk berbuat ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran?” Lalu dia menjawab: “Memang dulu aku pernah memerintahkan kalian untuk melakukan yang ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran, tapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan mencegah kalian agar tidak berbuat mungkar, malah sebaliknya aku yang melakukannya.”  (Al-Hadits)

Jadi dengan sedikit penjelasan di atas, maka marilah kita konsisten dengan apa yang kita bicarakan (dakwahkan); baik secara langsung atau hanya sekadar menuliskan “status facebook”, agar kita selamat dari kebencian dan kemurkaan Allah SWT. 
Wallahua’lam.


Bagansiapiapi, 09 Syawal 1434 H / 16 Agustus 2013
KH. BACHTIAR AHMAD

Senin, 12 Mei 2014

Sahabat Sejati dalam Ukhuwah Islami

Seorang teman atau sahabat merupakan orang yang sangat penting dalam mengarungi samudera kehidupan dunia ini. Gelombang kehidupan dunia yang terkadang ganas dan menghancurkan segala sesuatu yang dilalui, akan terasa lebih ringan diarungi dengan hadirnya seorang sahabat. Seorang sahabat yang selalu setia membantu, menasehati, dan membimbing perjalanan hidup ini. Hingga berhasil taklukan ganasnya samudera duniawi.

Berapa banyak orang yang meninggalkan sahabatnya ketika harta telah tiada. Berapa banyak orang meninggalkan sahabatnya ketika cobaan silih berganti menimpa. Berapa banyak orang yang meninggalkan sahabatnya ketika bertaruh nyawa. Berapa banyak pula orang yang merubah posisi sahabat menjadi musuh hanya karena iming-iming dunia. -wal iyadzubillah
Seorang sahabat sejati akan selalu memberikan dukungan nyata, walau mengorbankan harta dan nyawa. Seorang sahabat sejati tidak akan terpengaruh dengan adanya cobaan yang mendera, walaupun cobaan itu menyakiti jiwa dan raga. Seorang sahabat sejati akan selalu menasehati, di saat kita khilaf dan lupa. Merekalah sahabat sejati yang rela berkorban membela agama, dalam keadaan suka dan duka.

Diibaratkan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lain. Diibaratkan pula bagai satu tubuh yang akan merasakan sakit jika tubuh yang lain tersakiti, itulah arti sahabat sejati dalam ukhuwah islami. Jika sahabat itu adalah tangan, maka tangan itu akan menggunakan segala kemampuan untuk melindungi anggota tubuh yang lain, walaupun darah tertumpah menjadi taruhan.

“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari – Muslim).

“Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

Seorang sahabat sejati mengerti adab dalam sebuah ukhuwah yang islami. Tidak mencela, tidak memanggil dengan gelar yang buruk, tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak pula menggunjing kejelekan orang. Dia tidaklah mencintai sahabatnya kecuali dia mencintainya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
“Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).

“….Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (pangilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat: 11-12).

Seorang sahabat sejati tidak akan mengumbar kejelekan sahabatnya. Dia akan selalu menjaga dan menutup rapat aib-aibnya. Karena dia tahu, surga adalah balasan yang tepat atas perbuatannya.
“Tidaklah seseorang melihat aib saudaranya lalu dia menutupinya, kecuali dia akan masuk surga.” (HR. Thabrani).

Seorang sahabat sejati juga tidak akan segan untuk melepas tali persahabatan. Ketika mengetahui sahabatnya telah pergi, jauh menyimpang dan tidak lagi mendengar peringatan Ilahi (Al qur’an dan Assunnah). Sebagaimana seorang sahabat senior Rasulullah Abdurohman bin Auf rodhiyallahu anhu yang bertempur saling mengalahkan melawan umayyah bin kholaf dalam perang badar, hingga akhirnya umayyah tewas di tangan Bilal yang tidak lain adalah mantan budaknya sendiri. Padahal mereka berdua adalah dua orang yang bersahabat sebelum Islam datang. Itulah generasi para sahabat, sebuah generasi yang disabdakan oleh Nabi Muhammad sebagai generasi terbaik di muka bumi.

“kemanakah ku pergi mencari… Duhai sahabat sejati

Arungi samudera duniawi… Dengan bahtera ukhuwah islami”

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Wahai Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu. Wallahu A’lam

(ehsan)

Minggu, 11 Mei 2014

ღ ⊰❈ ⊱ ღ Munajah Cintaku ღ ⊰❈ ⊱ ღ


Kupasrahkan kepada-Mu Ya Rabb.,..
Engkau yang tahu isi hati ini, dan hanya do'a yang dapat ku kirimkan untuk insan disebrang...
hanya ini yg termampu ku tulis, dan airmata melukis kisah..

ღ ⊰❈ ⊱ ღ Istikharah cinta, cara ini yang mampu kutempuhi...
hati ku tiada berdaya untuk memula, dan diri ini terlalu sederhana, sehingganya cinta ini terasa berbeda, antara ingin dikatakan atau disimpan selamanya...
Istikharah cinta, agar ku jaga izzah cinta, agar tersemai cinta yang bermuara pada cinta-Nya..hingga terlelap dalam mimpi, yang ntah akan jadi nyata...yang akan menjelma atau malah akan sirna...
ku munajah cinta kepada sang illahi, hingga menangis tak berair mata, hingga hanya tetap akan menjadi rahasia di lauhul mahfudz-Nya ... ღ ⊰❈ ⊱ ღ


 
_SM_TMI_ 

Ilmu Untuk Amal dan Dakwah



Bergabung dan turut dalam barisan dakwah adalah suatu kenikmatan tiada tara yang Allah anugerahkan kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Dakwah mampu membuat mereka merasakan istildzadz ath-Tha’ah, nikmatnya ibadah dalam bingkai ketaatan kepada Allah, penuh harap kekuatan dari langit untuk meneguhkan pijakkannya dalam berdakwah di bumi Allah. Dengannya mereka merasakan istildzadz al-Masyaqat, nikmatnya kepayahan dan keletihan dalam berdakwah, memperjuangkan kalimat Allah agar tetap tinggi dan membahana di seantero bumi pertiwi. Manisnya iman akan mereka rasakan dengan kuat seiring dengan itu kesusahan, kesulitan, kebimbangan, kecemasan, ketakutan pun turut mereka rasakan dalam berjuang mengembalikan peradaban yang dirindukan.

Perjalanan dakwah ini begitu panjang, penuh perjuangan dan menuntut pengorbanan, karena balasan yang diperoleh pun bukan sesuatu yang sembarangan. Menjalaninya dengan ilmu adalah sebuah keharusan bagi mereka yang mengazamkan diri untuk berjuang disini. Seorang aktivitis dakwah harus menyadari bahwa hakikat dakwah ini adalah pertempuran antara haq dengan kebathilan, untuk itu perlu adanya bagi aktivis dakwah untuk memahami arti dan hakikat dari kata haq yang diperjuangkan dan mengetahui standar-standarnya menurut pandangan Islam yang pasti benar dan tidak bertentangan dengan sunatullah alam semesta. Mempelajari dan membaca al-Qur’an beserta tafsirnya, hadits beserta dengan syarahnya, keduanyalah sumber ilmu penuntun dakwah. Bersemangat pula dalam menuntut ilmu yang menjadi bidangnya saat ini, ilmu apapun yang sejatinya itu bisa menjadi sarana demi terealisasinya kemenangan haq tersebut. Belajar dan terus belajar serta bersungguh-sungguh didalamya haruslah menjadi ciri utama aktivis dakwah, tidak ada tawar-menawar. Dalam hal ini taujih bijak dari As-sayyid Hasan al-Banna menjelaskan bahwa seorang muslim wajib baginya memahami agama ini dengan baik disamping juga menguasai suatu bidang ilmu yang digelutinya, sampai tahap profesional didalamnya. Luar biasa, memang begitulah seharusnya. Bidang ilmu apapun yang sedang dipelajarinya saat ini haruslah bersungguh-sungguh untuk bisa memahami dan menguasainya dengan baik hingga kelak kemudian, ukirlah ilmu-ilmu tersebut diatas kanvas dakwah dan padukan bersama untuk menciptakan karya peradaban yang rabani.


                       Ambillah sebongkah mutiara ilmu, kemudian amalkan dan dakwahkan !