Minggu, 01 Juni 2014

Surat Cinta Untuk Calon Suami Ku

Kpd. 
Yth, Calon Suamiku

Assalamu'allaikum Wr..wb..

Dear Calon Suamiku...

Apa kabarnya imanmu hari ini?

Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur? karena dapat menatap kembali fananya hidup ini.

Sudahkah air wudhu menyegarkanmu kembali ingatanmu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?


Wahai Calon Suamiku...

Tahukah engkau betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya?

Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak.

Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.



Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku. Bagian terapuh diriku.


namun kini aku tahu jawabannya.


Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya.

Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saat kelak kita bertemu, kau bangga telah memiliki aku dihatimu.


Calon Suamiku...

Entah dimana dirimu sekarang.

Tapi aku yakin Allah pun mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku.

Aku yakin kini Dia tengah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak.



Apa yang ku harapkan darimu adalah kesalihan. 

Semoga sama halnya dengan dirimu.

Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang akan kau dapati.



Aku masih haus akan ilmu.

Namun berbekal ilmu yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu, Suamiku.


Wahai Calon Suamiku...
Saat aku masih menjadi asuhan Ayah dan Bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah, agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat.


Namun nanti,

setelah menjadi isterimu, aku berharap menjadi pendamping yang solehah agar kelak di syurga cukup aku yang menjadi bidadarimu,
mendampingi dirimu yang soleh.


Aku ini pencemburu berat !
tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela.

Aku harap begitu pula dirimu.


Aku yakin kaulah yang kubutuhkan, meski nanti kau bukanlah orang yang kuharapkan.


Calon Suamiku yang dirahmati Allah...



Apabila hanya sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita, 
takkan ku namai dengan gubuk derita. 
Karena itulah markas dakwah kita, dan akan menjadi indah ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih..
Ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah islam dari pernikahan kita,
Bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, 
terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah Ta'ala.
Bunga akan indah pada waktunya. 
Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. 
Maka kini tengah ku persiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.
                                                                                 
Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. 
Meski bukan umat yang terbaik,


tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak.


Calon Suamiku...
Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata.


Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Itulah yang kini kuhadapi.
Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku,

sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu.



Bersabarlah calon suamiku...
Doaku selalu...
Agar Allah memudahkan jalanmu tuk menjemputku sebagai bidadarimu...




Semoga Allah selalu menjagamu, agar tak tersentuh dengan yang bukan mahrammu,
meski hanya seujung kuku..
Agar kau bisa mempersembahkan dirimu seutuhnya untukku


Seperti halnya Aku,
yang ingin mempersembahkan diriku seutuhnya,
Hanya untukmu...


Sudah dulu ya calon suamiku,



Salam Cintaku Untukmu...



Wassalam.......



Calon Isterimu

 

Ingat Mati …

Kematian merupakan persinggahan pertama manusia di alam akhirat. Al Qurthubiy berkata dalam At Tadzkirah, “Kematian ialah terputusnya hubungan antara ruh dengan badan, berpisahnya kaitan antara keduanya, bergantinya kondisi, dan berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.” Yang dimaksud dengan kematian dalam pembahasan berikut ini adalah al maut al kubra, sedangkan al maut ash shughra sebagaimana dimaksud oleh para ulama, ialah tidur. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az Zumar : 42)[1]

Sebaik-baik pengingat adalah mati sebab satu peristiwa inilah yang pasti menjadi akhir hidup di dunia ini. Betapapun hebatnya kita atau sengsaranya kita ujung dari perjalanan adalah kematian baik sadar ataupun lalai ajal akan menghampirinya. Lantas mengapa peristiwa kematian menjadi ciri pengingat dan nasehat terbaik manusia. Renungkanlah secara mendalam dan bicaralah dari hatimu tentang mati ini.
Jika engkau bisa menemukan hidupmu setelah renungan kematian maka beruntunglah engkau sebab arah dan tujuan hidupmu pasti tergambar jelas siapa kita dan hendak kemana tujuan kita. Seberat apapun beban hidup niscaya akan terasa ringan sebab masih ada kesempatan untuk menyelesaikan dengan cara terbaik karena dilandasi oleh pemahaman bahwa ujian hidup adalah ladang amal sebagai pembuktian bahwa semua ini akan menjadi bukti pengabdian kepada Sang Pemilik kehidupan dunia dan akhirat. Jadi tiada sia-sia jika engkau memahami bahwa jalan surgamu adalah dengan menyelesaikan ujian hidup dunia dengan cara terbaik sebagai hamba Allah.
Bagi mereka yang lalai dari kematian pastilah hidupnya hanya dipenuhi kesenangan sementara bahkan tiada menyangka bahwa semua pasti berakhir. Bahkan hanya melahirkan perasaan takut kehilangan dan terkungkung dengan beban yang rumit ibarat benang kusut tanpa mampu mengurainya lagi. Mampukah kita mempertahankan kesuksesan di dunia ini dan terhindar dari ajal. Tentunya jujur pasti tak kan ada jaminan terhadap kebahagian yang sementara ini. Ya karena hidup di dunia ini akan fana dan berujung pada kematian.

Berkata Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhoinya:”Aku tidak pernah menyesali sesuatu sebagaimana aku menyesali terbenamnya matahari sebagai pertanda berkurangnya ajalku,sementara amalku tidak bertambah.

Orang yang Cerdas

Orang yang cerdas adalah orang yang tahu persis tujuan hidupnya. Kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya demi tujuan tersebut. Maka, jika akhir kesempatan bagi manusia untuk beramal adalah kematian, mengapa orang-orang yang cerdas tidak mempersiapkannya?

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)[2]

Pemutus Segala Kelezatan

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albaniy dalam Shahih An Nasa’iy 2/393 berkata : “hadits hasan shahih”)

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafizhahullah menjelaskan perihal hadits di atas, “Dianjurkan bagi setiap muslim, baik yang sehat maupun yang sedang sakit, untuk mengingat kematian dengan hati dan lisannya. Kemudian memperbanyak hal tersebut, karena dzikrul maut (mengingat mati) dapat menghalangi dari berbuat maksiat, dan mendorong untuk berbuat ketaatan. Hal ini dikarenakan kematian merupakan pemutus kelezatan. Mengingat kematian juga akan melapangkan hati di kala sempit, dan mempersempit hati di kala lapang. Oleh karena itu, dianjurkan untuk senantiasa dan terus menerus mengingat kematian.”[3]

Dan Merekapun Ingin Kembali

Sebaliknya orang-orang yang semasa hidupnya sangat sedikit mengingat mati, dari kalangan orang-orang kafir dan mereka yang tidak menaati seruan para Rasul, akan meminta tangguh dan udzur ketika bertemu dengan Rabb mereka kelak di akhirat. Inilah penyesalan yang paling mendalam bagi manusia yang tidak mengingat kematian.

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzalim: “Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (QS. Ibrahim : 44)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang shaleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun : 10-11)

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “ Wahai Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (QS. Al Mu’minun : 99-100)[4]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy berkata mengenai ayat dalam Surat Al Mu’minun, “Allah Ta’ala mengabarkan keadaan orang-orang yang berhadapan dengan kematian, dari kalangan mufrithin (orang-orang yang bersikap meremehkan perintah Allah -pent) dan orang-orang yang zhalim. Mereka menyesal dengan kondisinya ketika melihat harta mereka, buruknya amalan mereka, hingga mereka meminta untuk kembali ke dunia. Bukan untuk bersenang-senang dengan kelezatannya, atau memenuhi syahwat mereka. Akan tetapi mereka berkata, ‘Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” Beliau kembali menjelaskan, “Apa yang mereka perbuat tidaklah bermanfaat sama sekali, melainkan hanya ada kerugian dan penyesalan. Pun perkataan mereka bukanlah perkataan yang jujur, jika seandainya mereka dikembalikan lagi ke dunia, niscaya mereka akan kembali melanggar perintah Allah.”[5]

Pendekkan Angan-Anganmu!

Sikap panjang angan-angan akan membuat seseorang malas beramal, mengira hidup dan umur mereka panjang sehingga menunda-nunda dalam beramal shalih.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membuat segi empat, kemudian membuat garis panjang hingga keluar dari persegi tersebut, dan membuat garis-garis kecil dari samping menuju ke tengah. Kemudian beliau berkata, ‘Inilah manusia, dan garis yang mengelilingi ini adalah ajalnya, dan garis yang keluar ini adalah angan-angannya. Garis-garis kecil ini adalah musibah dalam hidupnya, jika ia lolos dari ini, ia akan ditimpa dengan ini, jika ia lolos dari ini, ia akan ditimpa dengan ini.” (HR. Bukhari, lihat Fathul Bari I/236-235)

Dari Anas beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap anak Adam akan menjadi tua dan hanya tersisa darinya dua hal: ambisi dan angan-angannya”[6]

Oleh karena itu, di antara bentuk dzikrul maut adalah memperpendek angan-angan, dan tidak menunda-nunda dalam beramal shalih.

Dari Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah memegang pundak kedua pundakku seraya bersabda : “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “. Ibnu Umar berkata : “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. (HR. Al-Bukhari, lihat Al Fath I/233)

Faktor-Faktor yang Dapat Mengingatkan Kematian

[1] Ziarah kubur, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berziarah kuburlah kalian sesungguhnya itu akan mengingatkan kalian pada akhirat” (HR. Ahmad dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani)[7]

[2] mengunjungi mayit ketika dimandikan dan melihat proses pemandiannya

[3] menyaksikan proses sakaratul maut dan membantu mentalqin

[4] mengantar jenazah, menyolatkan, dan ikut menguburkannya

[5] membaca Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan kepada kematian dan sakaratul maut. Seperti firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya” (QS. Qaaf : 19)

[6] merenungkan uban dan penyakit yang diderita, karena keduanya merupakan utusan malaikat maut kepada seorang hamba

[7] merenungkan ayat-ayat kauniyah yang telah disebutkan Allah Ta’ala sebagai pengingat bagi hamba-hambaNya kepada kematian. Seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, badai, dan sebagainya

[8] menelaah kisah-kisah orang maupun kaum terdahulu ketika menghadapi kematian, dan kaum yang didatangkan bala’ atas mereka

Faidah Mengingat Kematian
Di antara faidah mengingat kematian adalah : [1] memotivasi untuk mempersiapkan diri sebelum terjadinya kematian; [2] memendekkan angan-angan, karena panjang angan-angan merupakan sebab utama kelalaian; [3] menjadikan sikap zuhud terhadap dunia, dan ridha dengan bagian dunia yang telah diraih walaupun sedikit; [4] sebagai motivasi berbuat ketaatan; [5] sebagai penghibur seorang hamba tatkala memperoleh musibah dunia; [6] mencegah dari berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam menikmati kelezatan dunia; [7] memotivasi untuk segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat; [8] melembutkan hati dan mengalirkan air mata, mendorong semangat untuk beragama, dan mengekang hawa nafsu; [9] menjadikan diri tawadhu’ dan menjauhkan dari sikap sombong dan zhalim dan; [10] memotivasi untuk saling memaafkan dan menerima udzur saudaranya.[8]

Ada baiknya terus mengingat mati agar hati kita lembut menerima kebenaran sekaligus mampu mempersiapkan diri untuk hidup yang sebenarnya yaitu hidup setelah mati.

Kurangi angan-angan, perbanyak mengingat mati...

__________________________________________________________________________________
Sebagian bersumber dari  : Artikel www.muslim.or.id

[1] Al Qiyamah As Sughra, Syaikh Dr. Sulaiman Al Asyqar, hal. 15-16 cet. Dar An Nafais [2] Disebutkan dalam Kitab At Tazkirah bi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah, Imam Al Qurthubiy dalam bab Dzikrul Maut wa Fadhluhu wal Isti’dadu lahu I/120, cet. Maktabah Dar Al Minhaj
[3] Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly, I/634 cet. Dar Ibnul Jauziy
[4] Imam Nawawi berdalil dengan ayat-ayat tersebut dalam Riyadhus Shalihin bab Dzikrul Maut wa Qashrul Umal (Mengingat Kematian dan Memendekkan Angan-Angan)
[5] Taisir Karimirrahman, Syaikh Abdurrahman bin Nshir As Sa’diy, hal. 531, cet. Dar Ibnu Hazm
[6] HR. Baihaqi dalam Az Zuhd Al Kabir no. 454, Al Hafizh Al Iraqiy berkata hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam “Qashrul Umal” dengan sanad yang shahih
[7] Silahkan merujuk pembahasan lebih lengkap mengenai ziarah kubur dalam artikel bulletin At Tauhid terdahulu, “Saat Kubur Jadi Tempat Ibadah” http://buletin.muslim.or.id/aqidah/saat-kubur-jadi-tempat-ibadah
[8] Brosur “Kafa bil Mauti Wa’izh”, Darul Wathan

Senin, 26 Mei 2014

◕‿◕Pesan Terpendam Para Nabi Untuk Kita Dari Perjalanan Isra Miraj ◕‿◕







Bismillahirrahmanirrahiim...

 
۞ MI’RAJ LANGIT KE-1
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI ADAM a.s.
"ADAM" dari segi bahasa artinya “Tidak Ada” atau “Ketiadaan”.
Kita harus sadar bahwa segala urusan dunia atau urusan jasmani itu tidak kekal (yang kekal adalah urusan rohani, sehingga di balik jasmani itu ada rohani)

۞ MI’RAJ LANGIT KE-2
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI ISA a.s. DAN NABI YAHYA a.s.
"ISA" dari segi bahasa artinya “Hidup” dan YAHYA: “Kehidupan”. Artinya di dalam hidup ini kita harus selalu sadar ada kehidupan setelah kehidupan ini (akhirat). Harus menemukan makna hidup:
“Darimana kita...?”
“Apa tugas kita...?”
“Setelah ini mau ke mana...?”

۞ MI’RAJ LANGIT KE-3
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI YUSUF a.s.
"YUSUF" artinya “Indah”.
Artinya kita harus mengisi kehidupan ini agar menjadi indah.

۞ MI’RAJ LANGIT KE-4
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI IDRIS a.s.
"IDRIS" artinya “Cerdas”.
Artinya dalam hidup ini kita harus mempunyai tiga macam kecerdasan: Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ)

۞ MI’RAJ LANGIT KE-5
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI HARUN a.s.
"HARUN" artinya “yang dicintai Allah (al-Mahbub)”.
Artinya dalam kehidupan ini kita harus berusaha melakukan segala sesuatu yang dicintai Allah S.W.T., kesadaran akan mendapat cinta Allah S.W.T., cinta kepada Allah S.W.T. dan cinta kepada apa saja yang bisa mengantarkan kita kepada Allah S.W.T.

۞ MI’RAJ LANGIT KE-6
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI MUSA a.s.
"MUSA" adalah Mutakallimin yaitu “nabi yang bercakap-cakap dengan Allah S.W.T.“
Artinya kita harus mampu membaca segala sesuatu fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan kita sebagai bahasa atau ayat Allah S.W.T.

۞ MI’RAJ LANGIT KE-7
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI IBRAHIM a.s.
"IBRAHIM" artinya “Qurban”.
Qurban artinya dekat, dalam kehidupan ini harus senantiasa merasakan kedekatan dengan Allah S.W.T. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. tentang sifat IHSAN: “Kamu menyembah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu” [H.R. Bukhari]

۞ MI’RAJ KE BAITUL MA’MUR
Setiap harinya 70.000 malaikat sholat di Baitul Ma’mur.
"BAIT" artinya “Rumah”, sedangkan "MA’MUR" artinya “Ramai”.
Artinya hidup kita akan lebih bermakna bila dalam setiap gerak langkahnya senantiasa bernilai ibadah kepada Allah S.W.T. karena ibadah adalah nilai tertinggi dari hakikat kehidupan manusia.

۞ MI’RAJ KE SIDRATUL MUNTAHA
"SIDRAH" artinya “Pohon Bidara” dan "MUNTAHA" artinya “Tempat Berkesudahan”.
Artinya kehidupan dunia hanyalah sementara bukan merupakan titik akhir dan puncak tujuan hidup kita, melainkan kehidupan akhirat itulah tempat yang akan kita tuju.Dalam kehidupan di dunia ini kita harus berjuang untuk mencapai kehidupan abadi di akhirat yang lebih baik.

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Dari perjalanan Isra' Mi'raj inilah perintah Solat 5 waktu wajib atas kita hamba Allah dan umat Nabi Muhammad Saw.
Dari Anas Bin Malik r.a Rasulullah SAW bersabda :
" Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah sholat nya. Bila sholat nya baik maka baik pada seluruh amal nya, sebaliknya jika sholat nya rusak maka rusak pula seluruh amalnya" ( HR. Ath- Thabarani )


•●ღ¸.••●ღ¸.••●ღ¸.•●ღ¸.•

Semoga bisa menjadi renungan bersama...

Jumat, 16 Mei 2014

JANGAN CUMA BICARA

oleh: KH.Bachtiar Ahmad
====================
Setiap ucapan dan perbuatan kita pasti akan diminta pertanggunganjawabannya oleh Allah SWT. Terlebih-lebih lagi setiap perkataan kita yang mengandung kebajikan dalam bentuk amar ma’ruf nahi mungkar; Dan oleh hal yang demikian itulah Allah SWT mengingatkan kita dengan firman-Nya:

 “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri..”  (Q.S. Al-Baqarah: 44)
Adapun tentang orang-orang yang hanya pandai berkata-kata, menyuruh orang lain melakukan kebajikan, sementara tidak melaksanakan sendiri apa-apa yang diucapkannya itu adalah laksana sebatang lilin. Ia hanya pandai memberikan cahaya dan penerangan kepada apa yang ada di sekitarnya, sementara dirinya sendiri dibiartkannya terbakar dan meleleh tanpa arti.  Hal ini secara tegas telah diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:
 
“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebajikan kepada orang lain dan melupakan dirinya sendiri, adalah merupakan lentera (lilin) yang menerangi orang sementara dia sendiri dalam keadaan terbakar.” (H.R. Imam Ahmad r.a)

Sementara itu di lain  sisi, maka menurut ketentuan hukum agama, orang yang semacam inilah yang disebut sebagai pendusta besar atau orang yang munafik yang sangat dibenci Allah SWT sebagaimana  yang secara tersurat dan tersirat dalam firman-NYA:
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? /  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
 (Q.S. As-Shaff: 2-3)

Selain itu dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
“Pada hari Kiamat nanti seseorang akan dibawa dan dimasukkan ke dalam neraka, lalu isi perutnya terburai keluar, dia melilitkannya laksana himar (keledai) yang memutar gilingan. Para penghuni neraka berkumpul di dekatnya seraya bertanya: “Hai fulan, kenapa kamu ini? Bukankah dulu kamu memerin-tahkan untuk berbuat ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran?” Lalu dia menjawab: “Memang dulu aku pernah memerintahkan kalian untuk melakukan yang ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran, tapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan mencegah kalian agar tidak berbuat mungkar, malah sebaliknya aku yang melakukannya.”  (Al-Hadits)

Jadi dengan sedikit penjelasan di atas, maka marilah kita konsisten dengan apa yang kita bicarakan (dakwahkan); baik secara langsung atau hanya sekadar menuliskan “status facebook”, agar kita selamat dari kebencian dan kemurkaan Allah SWT. 
Wallahua’lam.


Bagansiapiapi, 09 Syawal 1434 H / 16 Agustus 2013
KH. BACHTIAR AHMAD

Senin, 12 Mei 2014

Sahabat Sejati dalam Ukhuwah Islami

Seorang teman atau sahabat merupakan orang yang sangat penting dalam mengarungi samudera kehidupan dunia ini. Gelombang kehidupan dunia yang terkadang ganas dan menghancurkan segala sesuatu yang dilalui, akan terasa lebih ringan diarungi dengan hadirnya seorang sahabat. Seorang sahabat yang selalu setia membantu, menasehati, dan membimbing perjalanan hidup ini. Hingga berhasil taklukan ganasnya samudera duniawi.

Berapa banyak orang yang meninggalkan sahabatnya ketika harta telah tiada. Berapa banyak orang meninggalkan sahabatnya ketika cobaan silih berganti menimpa. Berapa banyak orang yang meninggalkan sahabatnya ketika bertaruh nyawa. Berapa banyak pula orang yang merubah posisi sahabat menjadi musuh hanya karena iming-iming dunia. -wal iyadzubillah
Seorang sahabat sejati akan selalu memberikan dukungan nyata, walau mengorbankan harta dan nyawa. Seorang sahabat sejati tidak akan terpengaruh dengan adanya cobaan yang mendera, walaupun cobaan itu menyakiti jiwa dan raga. Seorang sahabat sejati akan selalu menasehati, di saat kita khilaf dan lupa. Merekalah sahabat sejati yang rela berkorban membela agama, dalam keadaan suka dan duka.

Diibaratkan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lain. Diibaratkan pula bagai satu tubuh yang akan merasakan sakit jika tubuh yang lain tersakiti, itulah arti sahabat sejati dalam ukhuwah islami. Jika sahabat itu adalah tangan, maka tangan itu akan menggunakan segala kemampuan untuk melindungi anggota tubuh yang lain, walaupun darah tertumpah menjadi taruhan.

“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari – Muslim).

“Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

Seorang sahabat sejati mengerti adab dalam sebuah ukhuwah yang islami. Tidak mencela, tidak memanggil dengan gelar yang buruk, tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak pula menggunjing kejelekan orang. Dia tidaklah mencintai sahabatnya kecuali dia mencintainya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
“Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).

“….Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (pangilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat: 11-12).

Seorang sahabat sejati tidak akan mengumbar kejelekan sahabatnya. Dia akan selalu menjaga dan menutup rapat aib-aibnya. Karena dia tahu, surga adalah balasan yang tepat atas perbuatannya.
“Tidaklah seseorang melihat aib saudaranya lalu dia menutupinya, kecuali dia akan masuk surga.” (HR. Thabrani).

Seorang sahabat sejati juga tidak akan segan untuk melepas tali persahabatan. Ketika mengetahui sahabatnya telah pergi, jauh menyimpang dan tidak lagi mendengar peringatan Ilahi (Al qur’an dan Assunnah). Sebagaimana seorang sahabat senior Rasulullah Abdurohman bin Auf rodhiyallahu anhu yang bertempur saling mengalahkan melawan umayyah bin kholaf dalam perang badar, hingga akhirnya umayyah tewas di tangan Bilal yang tidak lain adalah mantan budaknya sendiri. Padahal mereka berdua adalah dua orang yang bersahabat sebelum Islam datang. Itulah generasi para sahabat, sebuah generasi yang disabdakan oleh Nabi Muhammad sebagai generasi terbaik di muka bumi.

“kemanakah ku pergi mencari… Duhai sahabat sejati

Arungi samudera duniawi… Dengan bahtera ukhuwah islami”

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Wahai Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu. Wallahu A’lam

(ehsan)

Minggu, 11 Mei 2014

ღ ⊰❈ ⊱ ღ Munajah Cintaku ღ ⊰❈ ⊱ ღ


Kupasrahkan kepada-Mu Ya Rabb.,..
Engkau yang tahu isi hati ini, dan hanya do'a yang dapat ku kirimkan untuk insan disebrang...
hanya ini yg termampu ku tulis, dan airmata melukis kisah..

ღ ⊰❈ ⊱ ღ Istikharah cinta, cara ini yang mampu kutempuhi...
hati ku tiada berdaya untuk memula, dan diri ini terlalu sederhana, sehingganya cinta ini terasa berbeda, antara ingin dikatakan atau disimpan selamanya...
Istikharah cinta, agar ku jaga izzah cinta, agar tersemai cinta yang bermuara pada cinta-Nya..hingga terlelap dalam mimpi, yang ntah akan jadi nyata...yang akan menjelma atau malah akan sirna...
ku munajah cinta kepada sang illahi, hingga menangis tak berair mata, hingga hanya tetap akan menjadi rahasia di lauhul mahfudz-Nya ... ღ ⊰❈ ⊱ ღ


 
_SM_TMI_ 

Ilmu Untuk Amal dan Dakwah



Bergabung dan turut dalam barisan dakwah adalah suatu kenikmatan tiada tara yang Allah anugerahkan kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Dakwah mampu membuat mereka merasakan istildzadz ath-Tha’ah, nikmatnya ibadah dalam bingkai ketaatan kepada Allah, penuh harap kekuatan dari langit untuk meneguhkan pijakkannya dalam berdakwah di bumi Allah. Dengannya mereka merasakan istildzadz al-Masyaqat, nikmatnya kepayahan dan keletihan dalam berdakwah, memperjuangkan kalimat Allah agar tetap tinggi dan membahana di seantero bumi pertiwi. Manisnya iman akan mereka rasakan dengan kuat seiring dengan itu kesusahan, kesulitan, kebimbangan, kecemasan, ketakutan pun turut mereka rasakan dalam berjuang mengembalikan peradaban yang dirindukan.

Perjalanan dakwah ini begitu panjang, penuh perjuangan dan menuntut pengorbanan, karena balasan yang diperoleh pun bukan sesuatu yang sembarangan. Menjalaninya dengan ilmu adalah sebuah keharusan bagi mereka yang mengazamkan diri untuk berjuang disini. Seorang aktivitis dakwah harus menyadari bahwa hakikat dakwah ini adalah pertempuran antara haq dengan kebathilan, untuk itu perlu adanya bagi aktivis dakwah untuk memahami arti dan hakikat dari kata haq yang diperjuangkan dan mengetahui standar-standarnya menurut pandangan Islam yang pasti benar dan tidak bertentangan dengan sunatullah alam semesta. Mempelajari dan membaca al-Qur’an beserta tafsirnya, hadits beserta dengan syarahnya, keduanyalah sumber ilmu penuntun dakwah. Bersemangat pula dalam menuntut ilmu yang menjadi bidangnya saat ini, ilmu apapun yang sejatinya itu bisa menjadi sarana demi terealisasinya kemenangan haq tersebut. Belajar dan terus belajar serta bersungguh-sungguh didalamya haruslah menjadi ciri utama aktivis dakwah, tidak ada tawar-menawar. Dalam hal ini taujih bijak dari As-sayyid Hasan al-Banna menjelaskan bahwa seorang muslim wajib baginya memahami agama ini dengan baik disamping juga menguasai suatu bidang ilmu yang digelutinya, sampai tahap profesional didalamnya. Luar biasa, memang begitulah seharusnya. Bidang ilmu apapun yang sedang dipelajarinya saat ini haruslah bersungguh-sungguh untuk bisa memahami dan menguasainya dengan baik hingga kelak kemudian, ukirlah ilmu-ilmu tersebut diatas kanvas dakwah dan padukan bersama untuk menciptakan karya peradaban yang rabani.


                       Ambillah sebongkah mutiara ilmu, kemudian amalkan dan dakwahkan !
 
 

Sabtu, 10 Mei 2014

Mujahid Mujahidah Islam !



Perubahan itu harus dimulai, bukan dibayangkan !
Niat itu bukan hanya di lafazkan tapi di buktikan !

Biar perlahan tapi pasti !
Daripada tidak sama sekali...!


Kita pejuang Islam..!
Penerus dakwah Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam !

Jihad bukan hanya yang berjuang di medan perang !
Tapi Jihad yaitu selalu menegakkan kalimatullah !

Menjaga Iffah dan Izzah !
Menjaga Lisan dan amanah !

Kepalkan tangamu dan buktikan janji kepada Rabb yang pernah digenggam semasa dalam kandungan..!


Hamasah mujahid dan mujahidah Islam !

Allahu Akbar..! Allahu Akbar...!

لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوُل اللّهِ





-TMI-

Jangan Lemah ! Karena Allah bersama kita


  
بسم الله الرحمن الرحيم

Lemah dihadapan ALLAH akan menjadikan kita kuat untuk tawadhu dan tidak takabur..
tapi Lemah dihadapan MANUSIA akan menjadikan kita semakin runtuh dan tidak bersyukur..

❈ Lemah dalam berfikir negatif akan menjadikan kita kuat berfikir positif
❈ Lemah dalam memikirkan maksiat akan membuat kita untuk kuat berbuat sesuai syariat

namun,,
❈ Lemah dalam jasmani jangan menjadikan lemah hati (tidak percaya diri)
❈ Lemah dalam ilmu jangan menjadikan kita lemah untuk terus mempelajari dan mencari
❈ Lemah dalam dunia jangan lemah untuk akhirat

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebab Allah senantiasa memberikan nikmat dibalik cobaan-Nya, dan Allah senantiasa memberikan ujian sesuai dengan kemampuan makhluk-Nya..


Jangan Lemah ! Karena Allah selalu bersama kita....

" Maka nikmat Rabb mu yang manakah yang hendak kamu dustakan? " [Qs. Ar-Rahman:13]

〜∽∾∿{}∿∾∽〜
SM_TMI

Minggu, 13 April 2014

Cintaku Ibarat Tajwid



Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah
hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar…

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada…

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar,
jelas dan terang…

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta…

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain
melebur jadi satu.
Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil…Paling panjang di antara yang lainnya…
Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro.. terpantul-pantul dengan keras…
Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu..
Sayangku padamu seperti mad thobi’I dalam quran… Buanyaaakkk beneerrrrr….

semoga dalam hubungan., kita ini kayak idgham bilaghunnah ya,cuma berdua, lam dan ro’ ..
Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. dia atau aku?

Meski perhatianku ga terlihat kaya alif lam syamsiah,

cintaku pdmu spt alif lam Qomariah, terbaca jelas…
kau & aku spt Idghom Mutaqooribain..perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya…
Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim,terhenti sempurna diakhir hayat…
Sama halnya dgn Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti,seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.

Layaknya huruf Tafkhim,Namamu pun bercetak tebal di fikiranku
Seperti Hukum Imalah yg dikhususkan untuk Ro’ saja,begitu juga aku yang hanya utkmu.
Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun …


teruntuk calon suami ku Khairudin  :')


<sumber:kisahislami.com>

Jumat, 11 April 2014

Menyeimbangkan Antara Dunia dan Akhirat



Ilmu akhirat wajib dipelajari
Bekalan untuk bertemu Illahi
Ilmu duniawi boleh dicari
Panduan hidup untuk berbakti


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku akan mencari ilmu hanya karena Allah, dan aku tidak akan mencari jika untuk selain Allah. [Imam al-Ghazali]
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Islam mengajarkan untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat..
Tapi justru terlihat kaum muslim juga banyak lebih berat kedunia dari akhirat.., lebih banyak mempelajari ilmu dunia dari ilmu akhirat..

"(Sebagai) janji yang sebenarnya dari الله. الله sekali-kali tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir [zahir] (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 6-7)

AYAT ini menurut Al-Qurthubi berbicara tentang kriteria umum orang-orang kafir atau kaum musyrik Makkah yang hanya memperhatikan satu kehidupan saja, yaitu kehidupan dunia. Sehingga, siapapun yang bersikap demikian, tidaklah berbeda dengan orang kafir yang jelas mendapat kerugian di akhirat kelak. Mereka mengetahui kehidupan dunia sebatas untuk meraih kesenangan. Pengetahuan mereka tentang urusan duniawi justru disamakan oleh الله سبحانا وتعاﱃ dengan orang-orang yang tidak tahu, karena pengetahuan seseorang yang terbatas hanya tentang dunia adalah sama dengan kebodohan.

Bahkan ditegaskan dalam ayat di atas bahwa pengetahuan mereka tentang dunia pun sangat parsial, sebatas memahami sisi lahir dari kehidupan dunia yang luas ini, yaitu tentang kesenangan dan kenikmatannya saja, TIDAK tentang ujian, tanggung jawab, dan persoalan-persoalan penting dunia lainnya yang menghantarkan pada balasan baik di akhirat kelak.

Pemahaman seperti ini secara bahasa dapat dibenarkan seperti yang diungkapkan oleh Az-Zamakhsyari bahwa kata يَعْلَمُونَ adalah badal dari kata لا يعلمون sehingga keduanya bermakna satu, yaitu kebodohan dan ketidaktahuan.

Sikap lalai terhadap urusan akhirat menurut Sayyid Quthb merupakan musibah bagi manusia yang beriman. Karena keimanan seseorang seharusnya akan membimbing dan senantiasa mengarahkan untuk juga memperhatikan dan mempersiapkan kehidupan akhirat. Karena, kelengahan terhadap akhirat akan menjadikan barometer sesuatu menjadi rancu (keliru).

Segalanya diukur dengan ukuran material. Itulah bukti pemahaman yang sempit tentang kehidupan. Seorang yang memahami kehidupan akhirat akan mengubah pandangannya tentang dunia tidak melulu untuk memuaskan nafsu dan kesenangan materi semata. Tetapi, ia akan bersungguh-sungguh bekerja dan beramal untuk menyelamatkan diri di akhirat kelak.

Inilah pertimbangan dan parameter yang benar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Dan jika seseorang telah lalai akan akhirat, pasti ia akan lebih melupakan الله سبحانا وتعاﱃ. Padahal الله telah menegaskan,
“Dan janganlah kalian seperti orang yang melupakan الله, maka mereka berarti telah melupakan diri sendiri. Dan itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, Rasulullah صلی ﷲ علیﻪ و سلم menyebutkan ciri orang yang cerdas, ternyata terkait dengan perhatian akan kehidupan akhirat. Rasulullah صلی ﷲ علیﻪ و سلم bersabda:

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan nafsunya dan hanya berangan-angan terhadap الله (tidak beramal).”

Kehidupan dunia ini harus mendapat perhatian sewajarnya sesuai dengan tuntunan الله سبحانا وتعاﱃ., karena kehidupan dunia dapat menjadi potret akan keadaan kehidupan seseorang di akhirat kelak.

Jika akhir kehidupan dunianya baik, maka begitulah kehidupan yang akan dijalaninya di akhirat kelak. Namun jika penuh dengan dosa dan kemaksiatan, maka tentu hukuman siksa dan azab menjadi makanan yang tidak akan berhenti selama-lamanya di akhirat kelak.

Begitu juga, kehidupan dunia harus dipahami secara utuh, terutama berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab kemanusiaan, karena الله menciptakan manusia tidak sia-sia. Maka, hidup di dunia ini tidak boleh disia-siakan dengan melulu mengurusi kesenangan dan kenikmatannya!

Dr. Attabiq Luthfi, MA

Kamis, 10 April 2014

Ketika Hijab Hanya Menanti Dirimu

____

----------------------------------------------------
No need tutorial for hijab syar'i because syariah is simple (:
---------------------------------------------------
---------------------------------------- No need tutorial for hijab syar'i because syariah is simple (: -----------------------------------

Tidak semudah membalik kan telapak tangan, itu yang sering dikatakan orang ketika pesimis terhadap sesuatu belum dibuat dan memvonisnya sesuatu yang berat.
sama hal nya dengan berhijab, tidak semudah membalik kan telapak tangan ketika hanya menunggu kesiapan. Ia nya akan terasa berat. Karna hijab itu KEWAJIBAN. Seperti kematian tidak menunggu kesiapan, tapi kita lah yang harus bersiap2 menunggu kematian itu dengan amalan,  Karna mati itu adalah WAJIB ...
Jadi..apa lagi yang ditunggu ukhti sayang?? tidak kah dibayangkan ketika malaikat izrail mencabut nyawa kita dalam keadaan yg tidak menutup aurat dengan baik? adakah malaikat akan menghormati kita dalam menjemput kepada penghijrahan dunia menuju akhirat nanti?
Ingatlah sesungguhnya Ajal tidak menunggu Taubat.

Jangan perdulikan pandangan mereka yang tak tahu akan perintah Allah. Jangan takut untuk di cemooh dengan sudut pandang mereka yang tajam, jangan takut bila mereka mulai menanyakan ini itu, karena seorang muslimah itu kuat menghadapi orang-orang yang lebih banyak bicara daripada melakukakan.

" kenapa ukhty pake jilbab panjang-panjang gitu? gak gerah?? "
" Ukhty baju nya kegedean, ntar badan nya tenggelem"
" Kenapa ukhty pake kaos kaki?? lagi sakit kaki ya?? "

Bla Bla Bla...

Jangan abaikan, tapi jawablah dengan tegas ! Bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah...Dia membuka pintu hidayah bagi siapa yang membuka pintu nawaitu dalam hati nya...

"Sudah sanggup merasakan rambut ini di Creambath dengan api neraka?"
"Sudah sanggupkah tenggelam dalam lautan api neraka?"
"Sudahkah dapat dibayangkan kaki yang dibangga2 kan itu harus melepuh didalam api neraka??"

Pasti jawaban nya "TIDAK"
Tapi mengapa harus ditunda dulu ukhty?? mengapa harus menunggu siap kan ini itu, mau jilbabin hati dulu...??

Menutup aurat itu KEWAJIBAN.
Dan urusan hati serta akhlaq itu adalah urusan pribadi..Nanti setelah berhijab..ukhty pasti bisa menyadari perlahan-lahan, apa sebenarnya hijab itu...dan tanggung jawab kita sebagai muslimah, bagaimana menjaga iffah dan izzah, bagaimana kita melaksanakan tuntutan syari'ah..
Jika sudah berjilbab tapi akhlaq masih minus, itu bukan salah jilbabnya ukhty, tapi rohani, akhlaq yang tidak berusaha memahami fitrah nya kita dilahirkan sebagai manusia itu untuk apa? Renungkanlah.

[ WARNING : berhijab itu sesuai syari'at bukan mengikuti tren yang menyalahi daripada syar'i, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, harus kita perhatikan ( Tentu tidak akan lupa kepada batas-batas aurat kan? )... =) ]

Adakah sama kita didunia ini mencari Ridho Allah?? tidak semua..
yang sama adalah semua ingin masuk Surga..tapi tidak semua org yang ingin masuk surga berusaha mencari jalan nya..yaitu jalan hidup dengan IMTAQ (Iman dan Taqwa) kepada Allah...

Hijab mu menanti wahai ukhti..menanti untuk menemani mu menuju singgasana disurga...
Tidak kah engkau rasakan kasih sayang Allah dengan surat cinta-Nya dalam Qs. An-Nisa dan Qs. Al-Ahzab??

-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Maka nikmat Rabb-Mu yang manakah yang hendak kamu dustakan??? (QS. Arrahman:13)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Hijrah kan diri pada ampunan Allah...Hijrahkan diri pada pencarian Ridho Allah..sungguh orang-orang yang memandangmu tidak bisa menjamin keselamatan mu di akhirat kelak..telaah lah dirimu dari cermin, cermin yang tidak pernah mendustai apa yang ada dihadapannya...

Wallahu A'lam Bishawab

Wassalam





Rabu, 09 April 2014

Tinta Hati



Saya hanya ingin menoreh apa yang ada dihati, dan apa yang telah Allah firmankan kepada baginda Rasulullah dan para sahabat melalui kanfas2 yang indah..
ini sebagai pengingat bagi diri saya khususnya,,dan saya akan sampaikan apa yang saya tahu, semoga sedikit banyak nya bermanfaat bagi sahabat2 semua...Aamiin..

salam ukhuwah fillah abadan abada.. ♥









Jangan takut untuk berubah, sebab masa lalu itu adalah pengajaran terbaik, biar orang berkata apa, hanya Allah lah yang berhak menilai dan mengadili hamba2 Nya...
percayalah Allah senantiasa dekat kepada hamba-hamba-Nya yang cinta kepada-Nya..

Dan janganlah ketika melihat orang dengan masa lalu yang tidak baik, kita pandang sebelah mata, sebab tak ada yang tahu nanti nya dia akan jauh lebih baik dari kita...

Tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah..
jangan menghakimi dia yang ingin berubah..sebab neraca keadilan hanya milik ALLAH SWT ,,

"Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)". (QS. 55:7)


Semoga kita termasuk dalam golongan orang2 yang diridhoi Allah..
Aamiin Ya Allah


Semoga kita senantiasa hidup dalam keridhoan Allah..
dan senantiasa beryukur disetiap nikmat yang diberi Allah..
sekecil apapun terlihat,beryukurlah, karena boleh jadi yang kecil itu menjadi besar, sebab hidup penuh dengan dugaan..

Bersyukur akan membuat hidup menjadi sempurna Aamiin

Salam Ukhuwah sahabat2 

Sesungguhnya ajal tidak menunggu taubat..


Bismillahirrahmanirrahiim..

Sesungguhnya Allah sangat mencintai hamba-Nya yang mencintai-Nya, yang tidak membagi cintanya kepada ALLAH dengan cinta dunia...

dan sesungguhnya Allah sangat menyukai hamba-Nya yang bercinta dengan-Nya dikala sunyi, yang cukup percintaan itu hanya dia dan Allah yang tau,,


Sebaik-baik ibadah ialah yang dirahasiakan (tidak dipamerkan). (HR. Asysyihaab)

Wallahu'alam.. 

Untuk sahabat Fillah 

Sekotak Tisu berupa doa yang engkau berikan untuk membersihkan segenap tetesan kelukaan disaat pasukan keputus asaan menjelma nyata. Sokongan semangat dari keluarga dan sahabat sangat berharga disaat yang lain terbang menebar serpihan2 kayu yang bersisikan pisau tajam.

Semoga Allah Ridhoi ukhuwah ini hingga jannah-Nya..Aamiin..


Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktunya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"
[Qs: Al-Munafiqun:63:11]

La tahzan, Innallaha ma'ana..

ciptakan kebahagiaan dalam keadaan manapun...
tetap tersenyum dan berhusnuzon kepada Qada dan Qadar-Nya,,,


Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman,

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 Yang memberi nasihat bukan berarti lebih tua, dan yang menerima nasihat bukan berarti belum dewasa..


Sebab menasihati itu bukan didasari usia, orang yang bijak ialah :
- mampu memimpin dirinya 
- mampu memberikan contoh Akhlaq yang baik 
- mau mencontoh akhlaq yang baik dari orang lain


❧❀❧ Sebuah cinta yang betul2 suci dan tulus tidak akan pernah membuat kita leka dan menggadai semua marwah agama ツ ❧❀❧

Karna Cinta sejati hanya cinta kan Illahi, dan cinta sesama insan yang saling mencinta kerana Allah tak kan mau lari daripada Cinta-Nya apalagi melebihkan cinta manusia daripada cinta kepada-Nya...



Orang yang tawadhu ialah orang yang tahu arti bersyukur dan rendah diri dihadapan Allah, dan rendah hati diantara makhluk lainnya...

☼╰☆╮☼ Sedari lah bahwa kita ini setitik cahaya yang terang dibawah cahaya-Nya..☼╰☆╮☼

“ Anda tidak dapat menikmati hidup jika anda bertumpu pada hasil, bukan proses.”

-------------------------------------------------------------
Tujuan tertinggi yang harus dicapai oleh setiap insan dan merupakan keuntungan terbesar yang harus diraih adalah redha Allah. (Imam Hasan Al Banna)
-------------------------------------------------------------
 

 #Kesederhaan itu pintu Kebahagiaan
#Syukur itu kunci dari Kesempurnaan

~~~TURUTI KATA HATI~~~


Dalam hidup ini kita sering dihadapi dengan berbagai pilihan. Kadang tidak mudah untuk menetapkan suatu pilihan diantara berbagai pilihan yang ada. Sering pula, kita ragu apakah tindakan yang kita lakukan benar atau salah. Dalam kebimbangan ketika dipersimpangan jalan seperti ini, menuruti kata hati dapat menjadi keputusan yang terbaik, yang akan membimbing pada pilihan terbaik diantara pilihan-pilihan yang lain. Ya, ungkapan kata turuti kata hati sesungguhnya bukanlah sekedar rangkaian kata kosong belaka. Ungkapan ini sarat makna, bahwa kata hati adalah bisikan murni yang tidak akan pernah menyesatkan.

Sayangnya, kita justru kerap mengambil keputusan atau melakukan suatu tindakan karena mendengarkan kata-kata orang lain dan mengabaikan kata hati kita sendiri. Padahal belum tentu pendapat orang tersebut benar.
Sehingga jatuh pada suuzon terhadap orang lain..
Sebagaimana Firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Qs. Al-Hujurat:6)


Sesungguhnya, hanya diri sendiri yang paling mengerti kita, bukan orang lain.


Karena kita sendiri yang mampu memiliki cara menenangkan hati. Hati yang jernih akan berfikir jernih dalam suatu masalah, begitu juga sebaliknya...
hati yang jernih adalah hati yang selalu mengingati Allah...

Ya muqollibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala tho’atik (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan).

Wallahul muwaffiq... Aamiin..