Senin, 26 Mei 2014
◕‿◕Pesan Terpendam Para Nabi Untuk Kita Dari Perjalanan Isra Miraj ◕‿◕
Bismillahirrahmanirrahiim...
۞ MI’RAJ LANGIT KE-1
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI ADAM a.s.
"ADAM" dari segi bahasa artinya “Tidak Ada” atau “Ketiadaan”.
Kita harus sadar bahwa segala urusan dunia atau urusan jasmani itu tidak kekal (yang kekal adalah urusan rohani, sehingga di balik jasmani itu ada rohani)
۞ MI’RAJ LANGIT KE-2
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI ISA a.s. DAN NABI YAHYA a.s.
"ISA" dari segi bahasa artinya “Hidup” dan YAHYA: “Kehidupan”. Artinya di dalam hidup ini kita harus selalu sadar ada kehidupan setelah kehidupan ini (akhirat). Harus menemukan makna hidup:
“Darimana kita...?”
“Apa tugas kita...?”
“Setelah ini mau ke mana...?”
۞ MI’RAJ LANGIT KE-3
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI YUSUF a.s.
"YUSUF" artinya “Indah”.
Artinya kita harus mengisi kehidupan ini agar menjadi indah.
۞ MI’RAJ LANGIT KE-4
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI IDRIS a.s.
"IDRIS" artinya “Cerdas”.
Artinya dalam hidup ini kita harus mempunyai tiga macam kecerdasan: Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ)
۞ MI’RAJ LANGIT KE-5
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI HARUN a.s.
"HARUN" artinya “yang dicintai Allah (al-Mahbub)”.
Artinya dalam kehidupan ini kita harus berusaha melakukan segala sesuatu yang dicintai Allah S.W.T., kesadaran akan mendapat cinta Allah S.W.T., cinta kepada Allah S.W.T. dan cinta kepada apa saja yang bisa mengantarkan kita kepada Allah S.W.T.
۞ MI’RAJ LANGIT KE-6
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI MUSA a.s.
"MUSA" adalah Mutakallimin yaitu “nabi yang bercakap-cakap dengan Allah S.W.T.“
Artinya kita harus mampu membaca segala sesuatu fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan kita sebagai bahasa atau ayat Allah S.W.T.
۞ MI’RAJ LANGIT KE-7
HIKMAH PERTEMUAN DENGAN NABI IBRAHIM a.s.
"IBRAHIM" artinya “Qurban”.
Qurban artinya dekat, dalam kehidupan ini harus senantiasa merasakan kedekatan dengan Allah S.W.T. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. tentang sifat IHSAN: “Kamu menyembah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu” [H.R. Bukhari]
۞ MI’RAJ KE BAITUL MA’MUR
Setiap harinya 70.000 malaikat sholat di Baitul Ma’mur.
"BAIT" artinya “Rumah”, sedangkan "MA’MUR" artinya “Ramai”.
Artinya hidup kita akan lebih bermakna bila dalam setiap gerak langkahnya senantiasa bernilai ibadah kepada Allah S.W.T. karena ibadah adalah nilai tertinggi dari hakikat kehidupan manusia.
۞ MI’RAJ KE SIDRATUL MUNTAHA
"SIDRAH" artinya “Pohon Bidara” dan "MUNTAHA" artinya “Tempat Berkesudahan”.
Artinya kehidupan dunia hanyalah sementara bukan merupakan titik akhir dan puncak tujuan hidup kita, melainkan kehidupan akhirat itulah tempat yang akan kita tuju.Dalam kehidupan di dunia ini kita harus berjuang untuk mencapai kehidupan abadi di akhirat yang lebih baik.
Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)
Dari perjalanan Isra' Mi'raj inilah perintah Solat 5 waktu wajib atas kita hamba Allah dan umat Nabi Muhammad Saw.
Dari Anas Bin Malik r.a Rasulullah SAW bersabda :
" Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah sholat nya. Bila sholat nya baik maka baik pada seluruh amal nya, sebaliknya jika sholat nya rusak maka rusak pula seluruh amalnya" ( HR. Ath- Thabarani )
•●ღ¸.••●ღ¸.••●ღ¸.•●ღ¸.•
Semoga bisa menjadi renungan bersama...
Jumat, 16 Mei 2014
JANGAN CUMA BICARA
oleh: KH.Bachtiar
Ahmad
====================
Setiap ucapan dan perbuatan kita pasti akan diminta
pertanggunganjawabannya oleh Allah SWT. Terlebih-lebih lagi setiap perkataan
kita yang mengandung kebajikan dalam bentuk amar ma’ruf nahi mungkar; Dan oleh hal yang
demikian itulah Allah SWT mengingatkan kita dengan firman-Nya:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri..” (Q.S. Al-Baqarah: 44)
Adapun tentang orang-orang yang hanya pandai berkata-kata, menyuruh orang
lain melakukan kebajikan, sementara tidak melaksanakan sendiri apa-apa yang
diucapkannya itu adalah laksana sebatang lilin. Ia hanya pandai memberikan
cahaya dan penerangan kepada apa yang ada di sekitarnya, sementara dirinya
sendiri dibiartkannya terbakar dan meleleh tanpa arti. Hal ini secara tegas telah diingatkan oleh
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:
“Perumpamaan orang
yang mengajarkan kebajikan kepada orang lain dan melupakan dirinya sendiri,
adalah merupakan lentera (lilin) yang menerangi orang sementara dia sendiri
dalam keadaan terbakar.” (H.R. Imam Ahmad r.a)
Sementara itu di
lain sisi, maka menurut ketentuan hukum
agama, orang yang semacam inilah yang disebut sebagai pendusta besar atau orang
yang munafik yang sangat
dibenci Allah SWT sebagaimana yang
secara tersurat dan tersirat dalam firman-NYA:
“Wahai orang-orang
yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
/ Amat besar kebencian di sisi Allah
bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(Q.S. As-Shaff: 2-3)
Selain itu dalam
sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
“Pada hari Kiamat nanti seseorang akan
dibawa dan dimasukkan ke dalam neraka, lalu isi perutnya terburai keluar, dia melilitkannya
laksana himar (keledai) yang memutar gilingan. Para penghuni neraka berkumpul
di dekatnya seraya bertanya: “Hai fulan, kenapa kamu ini? Bukankah dulu kamu
memerin-tahkan untuk berbuat ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran?” Lalu dia
menjawab: “Memang dulu aku pernah memerintahkan kalian untuk melakukan yang
ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran, tapi aku sendiri tidak melaksanakannya.
Dan mencegah kalian agar tidak berbuat mungkar, malah sebaliknya aku yang
melakukannya.” (Al-Hadits)
Jadi dengan sedikit
penjelasan di atas, maka marilah kita konsisten dengan apa yang kita bicarakan
(dakwahkan); baik secara langsung atau hanya sekadar menuliskan “status
facebook”, agar kita selamat dari kebencian dan kemurkaan Allah SWT.
Wallahua’lam.
Wallahua’lam.
Bagansiapiapi, 09
Syawal 1434 H / 16 Agustus 2013
KH. BACHTIAR AHMAD
Senin, 12 Mei 2014
Sahabat Sejati dalam Ukhuwah Islami
Seorang
teman atau sahabat merupakan orang yang sangat penting dalam mengarungi
samudera kehidupan dunia ini. Gelombang kehidupan dunia yang terkadang
ganas dan menghancurkan segala sesuatu yang dilalui, akan terasa lebih
ringan diarungi dengan hadirnya seorang sahabat. Seorang sahabat yang
selalu setia membantu, menasehati, dan membimbing perjalanan hidup ini.
Hingga berhasil taklukan ganasnya samudera duniawi.
Berapa banyak
orang yang meninggalkan sahabatnya ketika harta telah tiada. Berapa
banyak orang meninggalkan sahabatnya ketika cobaan silih berganti
menimpa. Berapa banyak orang yang meninggalkan sahabatnya ketika
bertaruh nyawa. Berapa banyak pula orang yang merubah posisi sahabat
menjadi musuh hanya karena iming-iming dunia. -wal iyadzubillah
Seorang sahabat sejati akan selalu memberikan dukungan nyata, walau mengorbankan harta dan nyawa. Seorang sahabat sejati tidak akan terpengaruh dengan adanya cobaan yang mendera, walaupun cobaan itu menyakiti jiwa dan raga. Seorang sahabat sejati akan selalu menasehati, di saat kita khilaf dan lupa. Merekalah sahabat sejati yang rela berkorban membela agama, dalam keadaan suka dan duka.
Diibaratkan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lain. Diibaratkan pula bagai satu tubuh yang akan merasakan sakit jika tubuh yang lain tersakiti, itulah arti sahabat sejati dalam ukhuwah islami. Jika sahabat itu adalah tangan, maka tangan itu akan menggunakan segala kemampuan untuk melindungi anggota tubuh yang lain, walaupun darah tertumpah menjadi taruhan.
“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari – Muslim).
“Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).
Seorang sahabat sejati mengerti adab dalam sebuah ukhuwah yang islami. Tidak mencela, tidak memanggil dengan gelar yang buruk, tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak pula menggunjing kejelekan orang. Dia tidaklah mencintai sahabatnya kecuali dia mencintainya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
“Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).
“….Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (pangilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat: 11-12).
Seorang sahabat sejati tidak akan mengumbar kejelekan sahabatnya. Dia akan selalu menjaga dan menutup rapat aib-aibnya. Karena dia tahu, surga adalah balasan yang tepat atas perbuatannya.
“Tidaklah seseorang melihat aib saudaranya lalu dia menutupinya, kecuali dia akan masuk surga.” (HR. Thabrani).
Seorang sahabat sejati juga tidak akan segan untuk melepas tali persahabatan. Ketika mengetahui sahabatnya telah pergi, jauh menyimpang dan tidak lagi mendengar peringatan Ilahi (Al qur’an dan Assunnah). Sebagaimana seorang sahabat senior Rasulullah Abdurohman bin Auf rodhiyallahu anhu yang bertempur saling mengalahkan melawan umayyah bin kholaf dalam perang badar, hingga akhirnya umayyah tewas di tangan Bilal yang tidak lain adalah mantan budaknya sendiri. Padahal mereka berdua adalah dua orang yang bersahabat sebelum Islam datang. Itulah generasi para sahabat, sebuah generasi yang disabdakan oleh Nabi Muhammad sebagai generasi terbaik di muka bumi.
“kemanakah ku pergi mencari… Duhai sahabat sejati
Arungi samudera duniawi… Dengan bahtera ukhuwah islami”
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Wahai Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu. Wallahu A’lam
(ehsan)
Seorang sahabat sejati akan selalu memberikan dukungan nyata, walau mengorbankan harta dan nyawa. Seorang sahabat sejati tidak akan terpengaruh dengan adanya cobaan yang mendera, walaupun cobaan itu menyakiti jiwa dan raga. Seorang sahabat sejati akan selalu menasehati, di saat kita khilaf dan lupa. Merekalah sahabat sejati yang rela berkorban membela agama, dalam keadaan suka dan duka.
Diibaratkan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lain. Diibaratkan pula bagai satu tubuh yang akan merasakan sakit jika tubuh yang lain tersakiti, itulah arti sahabat sejati dalam ukhuwah islami. Jika sahabat itu adalah tangan, maka tangan itu akan menggunakan segala kemampuan untuk melindungi anggota tubuh yang lain, walaupun darah tertumpah menjadi taruhan.
“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari – Muslim).
“Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).
Seorang sahabat sejati mengerti adab dalam sebuah ukhuwah yang islami. Tidak mencela, tidak memanggil dengan gelar yang buruk, tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak pula menggunjing kejelekan orang. Dia tidaklah mencintai sahabatnya kecuali dia mencintainya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
“Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).
“….Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (pangilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat: 11-12).
Seorang sahabat sejati tidak akan mengumbar kejelekan sahabatnya. Dia akan selalu menjaga dan menutup rapat aib-aibnya. Karena dia tahu, surga adalah balasan yang tepat atas perbuatannya.
“Tidaklah seseorang melihat aib saudaranya lalu dia menutupinya, kecuali dia akan masuk surga.” (HR. Thabrani).
Seorang sahabat sejati juga tidak akan segan untuk melepas tali persahabatan. Ketika mengetahui sahabatnya telah pergi, jauh menyimpang dan tidak lagi mendengar peringatan Ilahi (Al qur’an dan Assunnah). Sebagaimana seorang sahabat senior Rasulullah Abdurohman bin Auf rodhiyallahu anhu yang bertempur saling mengalahkan melawan umayyah bin kholaf dalam perang badar, hingga akhirnya umayyah tewas di tangan Bilal yang tidak lain adalah mantan budaknya sendiri. Padahal mereka berdua adalah dua orang yang bersahabat sebelum Islam datang. Itulah generasi para sahabat, sebuah generasi yang disabdakan oleh Nabi Muhammad sebagai generasi terbaik di muka bumi.
“kemanakah ku pergi mencari… Duhai sahabat sejati
Arungi samudera duniawi… Dengan bahtera ukhuwah islami”
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Wahai Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu. Wallahu A’lam
(ehsan)
Minggu, 11 Mei 2014
ღ ⊰❈ ⊱ ღ Munajah Cintaku ღ ⊰❈ ⊱ ღ
Kupasrahkan kepada-Mu Ya Rabb.,..Engkau yang tahu isi hati ini, dan hanya do'a yang dapat ku kirimkan untuk insan disebrang...
hanya ini yg termampu ku tulis, dan airmata melukis kisah..
ღ ⊰❈ ⊱ ღ Istikharah cinta, cara ini yang mampu kutempuhi...
hati ku tiada berdaya untuk memula, dan diri ini terlalu sederhana, sehingganya cinta ini terasa berbeda, antara ingin dikatakan atau disimpan selamanya...
Istikharah cinta, agar ku jaga izzah cinta, agar tersemai cinta yang bermuara pada cinta-Nya..hingga terlelap dalam mimpi, yang ntah akan jadi nyata...yang akan menjelma atau malah akan sirna...
ku munajah cinta kepada sang illahi, hingga menangis tak berair mata, hingga hanya tetap akan menjadi rahasia di lauhul mahfudz-Nya ... ღ ⊰❈ ⊱ ღ
_SM_TMI_
Ilmu Untuk Amal dan Dakwah
Perjalanan dakwah ini begitu panjang, penuh perjuangan dan menuntut pengorbanan, karena balasan yang diperoleh pun bukan sesuatu yang sembarangan. Menjalaninya dengan ilmu adalah sebuah keharusan bagi mereka yang mengazamkan diri untuk berjuang disini. Seorang aktivitis dakwah harus menyadari bahwa hakikat dakwah ini adalah pertempuran antara haq dengan kebathilan, untuk itu perlu adanya bagi aktivis dakwah untuk memahami arti dan hakikat dari kata haq yang diperjuangkan dan mengetahui standar-standarnya menurut pandangan Islam yang pasti benar dan tidak bertentangan dengan sunatullah alam semesta. Mempelajari dan membaca al-Qur’an beserta tafsirnya, hadits beserta dengan syarahnya, keduanyalah sumber ilmu penuntun dakwah. Bersemangat pula dalam menuntut ilmu yang menjadi bidangnya saat ini, ilmu apapun yang sejatinya itu bisa menjadi sarana demi terealisasinya kemenangan haq tersebut. Belajar dan terus belajar serta bersungguh-sungguh didalamya haruslah menjadi ciri utama aktivis dakwah, tidak ada tawar-menawar. Dalam hal ini taujih bijak dari As-sayyid Hasan al-Banna menjelaskan bahwa seorang muslim wajib baginya memahami agama ini dengan baik disamping juga menguasai suatu bidang ilmu yang digelutinya, sampai tahap profesional didalamnya. Luar biasa, memang begitulah seharusnya. Bidang ilmu apapun yang sedang dipelajarinya saat ini haruslah bersungguh-sungguh untuk bisa memahami dan menguasainya dengan baik hingga kelak kemudian, ukirlah ilmu-ilmu tersebut diatas kanvas dakwah dan padukan bersama untuk menciptakan karya peradaban yang rabani.
Sabtu, 10 Mei 2014
Mujahid Mujahidah Islam !
Perubahan itu harus dimulai, bukan dibayangkan !
Niat itu bukan hanya di lafazkan tapi di buktikan !
Biar perlahan tapi pasti !
Daripada tidak sama sekali...!
Kita pejuang Islam..!
Penerus dakwah Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam !
Jihad bukan hanya yang berjuang di medan perang !
Tapi Jihad yaitu selalu menegakkan kalimatullah !
Menjaga Iffah dan Izzah !
Menjaga Lisan dan amanah !
Kepalkan tangamu dan buktikan janji kepada Rabb yang pernah digenggam semasa dalam kandungan..!
Hamasah mujahid dan mujahidah Islam !
Allahu Akbar..! Allahu Akbar...!
لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوُل اللّهِ
-TMI-
Jangan Lemah ! Karena Allah bersama kita
بسم الله الرحمن الرحيم
tapi Lemah dihadapan MANUSIA akan menjadikan kita semakin runtuh dan tidak bersyukur..
❈ Lemah dalam berfikir negatif akan menjadikan kita kuat berfikir positif
❈ Lemah dalam memikirkan maksiat akan membuat kita untuk kuat berbuat sesuai syariat
namun,,
❈ Lemah dalam jasmani jangan menjadikan lemah hati (tidak percaya diri)
❈ Lemah dalam ilmu jangan menjadikan kita lemah untuk terus mempelajari dan mencari
❈ Lemah dalam dunia jangan lemah untuk akhirat
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebab Allah senantiasa memberikan nikmat dibalik cobaan-Nya, dan Allah senantiasa memberikan ujian sesuai dengan kemampuan makhluk-Nya..
Jangan Lemah ! Karena Allah selalu bersama kita....
" Maka nikmat Rabb mu yang manakah yang hendak kamu dustakan? " [Qs. Ar-Rahman:13]
〜∽∾∿{}∿∾∽〜
SM_TMI
Langganan:
Komentar (Atom)




